Thursday, April 14, 2016

Tugas Sejarah Lokal II



I.     SOAL

1.    Buktikan bahwa kerajaan/Kesultanan Buton mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.    Kerajaan yang berciri Islam!
b.    Kerjaaan yang bercorak maritim!
c.    Sistem pemerintahannya adalah Monarki Konstitusional!
d.    Menerapkan sistem demokrasi!
2.    Mengapa Kerajaan Buton bisa bertahan cukup lama kurang lebih 500 tahun, apa dan bagaimana strateginya?

II.  JAWABAN

1.    Buktikan bahwa kerajaan/Kesultanan Buton mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Buton merupakan salah satu kerajaan/kesultanan yang bercorak Islam yang pernah ada di nusantara. Hal itu dapat di buktikan dengan Raja Buton yang ke-VI bernama La Kilaponto. Ketika setelah Islam mulai diperkenalkan di tanah Buton pada tahun 1417 Raja La Kilaponto memeluk Islam dengan gelar Sultan Murhum yang merupakan sultan yang pertama dan ia pun merubah sistem pemerintahan dari kerajaan menjadi kesultanan. Pada Sultan Buton yang ke-IV bernama La Elangi bergelar Sultan Dayanu Ikhsanuddin, ia menyusun suatu undang-undang  yang dinamakan dengan Martabat Tujuh (artinya tujuh martabat atau tingkatan) yang berisi tentang ideologi pemerintahan, syarat pemerintahan, pembagian wilayah pemerintahan, dan kedudukan Barata Patapalena. Isi pokok dari UU Maratabat Tujuh diambil atau bersumber dari nilai-nilai ajaran Islam. Jadi, Buton merupakan salah satu kerajaan Islam yang pernah ada di nusantara.
b.      Buton juga merupakan salah satu kerajaan yang bercorak maritim. Hal ini dapat diperkuat dengan keterangan menurut Fox. Ia mengatakan bahwa orang Buton masuk kedalam tiga suku yang paling ekspansif dan dominan dalam kegiatan pelayaran, terutama di Nusantara Bagian Timur selain Bugis dan Makassar. Mereka berlayar dengan menggunakan perahu yang dinamakan dengan lambo atau bhangka. Pelayaran mereka bukan hanya di nusantara, tetapi sampai di Malaysia, Singapura, dan Filipina Selatan. Hal tersebut di sebabkan karena sebagian wilayah Kesultanan Buton merupakan wilayah perairan/laut. Kegiatan pelayaran tersebut banyak dilakukan oleh masyarakat yang mendiami Kepulauan Tukan Besi, diantaranya Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Mereka menekuni kegiatan pelayaran disebabkan karena keadaan alamnya yang tandus dan kering. Jadi, Buton salah satu Kesultanan bercorak maritim.
c.       Sistem pemerintahan Kesultanan Buton adalah Monarki Konstitusional, namun bercorak Islam. Dimana Monarki adalah bentuk pemerintahan yang di kepalai oleh seorang raja/sultan serta Konstitusional merupakan bentuk pemerintahan yang memegang kekusaan tertinggi adalah seorang raja/sultan namun kekuasaan tersebut dibatasi berdasarkan ketentuan atau undang-undang serta yang berhak untuk memang tampuk kekuasaan adalah golongan bangsawan. Namun, jika didalam masa pemerintahan seorang sultan ditemukan kesalahan, sultan tersebut dapat diturunkan dari tahtanya oleh suatu lembaga legislatif yang dinamakan Sio Limbona (Dewan Sembilan) yang bertugas untuk mengawasi jalanya pemerintahan. Jadi, Buton menganut sistem pemerintahan Monarki Konstitusional.
d.      Didalam pemerintahan Kesultanan Buton juga menganut sistem demokrasi. Sistem demokrasi yang telah berjalan di Indonesia ternyata bukan memang hal baru bagi nusantara, tetapi sistem pemerintahan seperti ini adalah kekayaan lokal suku bangsa tanah air, dan diantara penerapan sistem demokrasi sejak beberapa abad lalu adalah Kerajaan / Kesultanan Buton. Ada beberapa landasan tradisi untuk mengklaim bahwa sistem pemerintahan Kesultanan Buton berjalan secara demokratis dengan nafas Islam, yakni mulai dari sistem pemilihan Sultan (Laki Wolio), dimana terpilihnya Sultan untuk naik tahta adalah berdasarkan pemilihan yang dilakukan oleh Sio Limbona (perwakilan atau dewan adat masing-masing komunitas atau wilayah). Sio Limbona ini dipilih berdasarkan sistem permufakatan yang dipilih oleh rakyat, dan sang Sultan (Raja) sendiri pun tidak didasarkan atas dasar turun-temurun. Jadi, Sultan di Kesultanan Buton tidak pernah mengenal istilah putra mahkota sebagai lazimnya kerajaan lain di dunia. Dalam menjalankan sistem pemerintahannya pun, sang Sultan juga tidak dapat mengambil keputusan sendiri, tetapi harus (selalu) merujuk pada Sio Limbona dan segala perangkat kesultanan, termasuk diantaranya para barata. Untuk diketahui Kesultanan Buton memiliki 4 barata (wilayah pemerintahan), yakni Barata Muna dan Tiworo (Kab.Muna sekarang), Barata Kalisusu (Kab.Buton Utara), Barata Kaledupa (Kab.Wakatobi). Jadi, Buton menerapkan sistem  demokrasi didalam menjalankan roda pemerintahan.
2.    Alasan mengapa Kesultanan Buton bisa bertahan selama kurang lebih 500 tahun. Ini di sebabkan karena kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki oleh para sultan serta dibantu dewan sembilan (Sio Limbona). Melihat wilayah kekuasan Buton kecil dan mencakupi wilayah kepulauan, hal inilah membaut sultan untuk membangun sebuah persekutuan dan kesepakan untuk saling menjaga keamanan dari gangguan perompak/bajak laut dari Tobelo bernama La Bolontio namun pada akhirnya ia pun berhasil dibunuh oleh La Kilaponto/Murhum (Sultan Buton pertama). Persekutuan itu dilakukan dengan membentuk sebuah wilayah Barata Patapalena (Muna, Tiworo, Kalingsusu, dan Kaledupa). Wilayah Barata sengaja dibentuk untuk melindungi wilayah Buton yang sempit dari serangan perompak/bajak laut dan kerjaan sekitar yang berkeinginan menguasai Buton.  Hal yang sama dilakukan ketika kekuasaan asing (VOC/Belanda) mulai bercokol di nusantara. Belanda pertama kali menginjak tanah Buton pada tahun 1613. Jadi, untuk melindungi wilayah Buton, para sultan dengan terpaksa menjalin kerjasama dengan VOC/Belanda, salah satunya “Perjanjian Shcet-Elangi” dalam sejarah Buton dikenal dengan “Janji Baana (Janji Pertama). Namun pada akhirnya, perjanjian tersebut merugikan Buton dengan penebangan pohon cengkeh diseluruh wilayah Buton.  Hal ini menyebabkan timbulnya pemberontakan di wilayah Barata, salah satunya Binongko yang dipimpin oleh Kapita Walondi. Cobaan yang dialami oleh Buton bertambah berat, ketika harus menerima kenyataan pada saat Buton di kuasai oleh Jepang. Kekuasan Jepang di Buton tidak berlangsung seiring dengan kekalahan Jepang dalam perang Asia-Pasifik melawan Amerika dan sekutunya. Walapun menerima berbagai rintangan dan cobaan, tapi eksistensi Kesultana Buton dapat dipertahankan hingga menjelang kemerdekaan Indonesia. Bahkan sampai pada tahun 1960, meskipun sultan tinggal seorang diri, Presiden Bung Karno pergi ke Buton  menemui dan meminta Sultan Muhammad Falihi agar Buton bergabung dengan NKRI.



SEJARAH LOKAL II












Oleh:

JUHLIM
A1A213094




JURUSAN/PRODI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI 2016